Sosmed Cringe

[blogrollentry]

Media (jejaring?) sosial itu cringe.

Rambling ini saya tulis langsung pakai HTML (untuk website nikotile.xyz). Jika Anda baca lewat Facebook, beberapa huruf aneh akan muncul karena Anda lagi baca update otomatis RSS (Anda juga cringe, btw). Kalau baca lewat web atau malah RSS feed, chad sekali. Tapi tidak apa-apa, rambling zoomer gak jelas ini saya tulis utamanya untuk teman-teman yang (entah mengapa mau) nge-like halaman Nikotile di FB..

Poin pertama: sosmed, medsos, medSOY, jejaring sosial, apapun lah namanya, itu cringe.

Memang benar tidak semua orang seperti ini. Tetapi yang saya rasakan adalah sebagian besar pengguna Internet terlalu bergantung pada medsos. Dulu saya pikir medsos itu menyederhanakan Internet, tentunya sederhana secara positif. Kita jadi bisa konsoom hiburan kesukaan dengan lebih mudah tanpa harus bersusah payah menggunakan mesin pencari seperti Google. Tidak perlu kita menggali-gali dengan sulitnya untuk menemukan fansub baru ketika kita ingin menonton anime bajakan. Banyak fansub-fansub ini yang memiliki presensi di timeline Facebook atau grup obscure Telegram. Banyak mutual kita di Facebook atau Twitter yang tahu daftar fansub beserta link situs dan/atau Drive mereka. Lagipula, kita (atau mungkin bukan saya) bisa nonton yang legal di YouTube.

Namun sekarang saya rasa, "kesederhanaan" ini justru merusak Internet. Kesederhanaannya justru menjadikan aktivitas Internet kita jadi lebih kompleks. Sekarang kita memiliki tuntutan sosial untuk hadir di berbagai medsos. Setelah selesai webinar tidak jelas, kita bertukar profil Instagram dengan sesama peserta. Setelah beberapa saat berkenalan dengan teman kuliah, kita berbagi handle Twitter. Ketika melamar kerja, sebagian melebih-lebihkan deskripsi diri di LinkedIn. Sekali lagi, tentu tidak semua orang patuh pada tuntutan tak kasatmata ini dan saya menghormati mereka.

Kompleksitas tadi tidak berhenti sampai situ. Banyak orang yang menggunakan ponsel pintar. Apa yang terjadi? Mereka unduh semua aplikasi medsos itu lewat playstore. Sekarang halaman depan ponsel mereka jadi warna-warni. Mengapa tidak pakai browser saja? Yo ndak tahu, mungkin karena medsos itu "terlalu canggih" untuk hanya sekedar ditampilkan di browser ponsel. Atau, mungkin karena ada hasrat untuk hadir di medsos di manapun, kapanpun.

Baiklah, sampai di situ rambling tidak bijak dari seorang zoomer. Saya ingin membicarakan satu hal lain, tapi serupa. Seperti yang saya bilang tadi, tulisan ini ditujukan bagi orang yang nge-like halaman Facebook saya. Halaman itu (atau ini) dibuat di waktu yang berdekatan dengan akun Instagram nikotile.mp4 ketika saya sedang melakukan live stream di YouTube. Mengapa saya pikir itu perlu? Karena saya cringe. Kaerna saya pikir platform-platform ini akan mempermudah aktivitas saya sebagai Nikotile. Apakah sekarang saya tidak cringe? Saya rasa tidak seutuhnya. Saya masih seorang zoomer bodoh. Saya belum tega untuk menghapus halaman Facebook dan akun Instagram, MESKIPUN saya sudah tidak menggunakannya lagi secara langsung. Tempat utama saya sekarang adalah Twitter (ewww) melalui browser dan, mungkin, YouTube sebagai tempat buang berak (pikiran random) tentang budaya dan media seperti biasanya.

Mungkin saya akan menggunakan halaman Facebook, tapi tidak secara langsung. Ketika saya menulis sesuatu di website saya, akan ada update otomatis seperti ini. Untuk Instagram, lol no. Lain lagi, saya sudah terlanjur menyebar link halaman Facebook dan profil Instagram saya di beberapa video YouTube. Saya masih cringe dengan diri saya: saya merasa bersalah jika ada orang random yang klik link itu dan tidak menemukan apapun ketika saya menghapus Facebook dan Instagram. Maka dari itu, saya akan membiarkannya tetapi mengosongkannya. Saya akan menaruh link website saya di sana jika orang random ini tertarik untuk lurk moar.

Oh, satu lagi, saya lebih cepat merespons email dibanding DM di platform manapun. Jangan kirimi saya meme random melalui DM Instagram dan/atau Facebook karena saya baru akan baca itu enam minggu kemudian.